/*-- Start Maintenance Template -- */ /*-- Akhir Maintenance Template -- */

Ads (728x90)

Dilihat 0 kali



BATAM, Sumutrealita.com
- Memasuki hari terakhir kegiatan Pameran dan Seminar Indonesia Infrastructure Week (IIW), Badan Pengusahaan (BP) Batam berkesempatan untuk memberikan presentasi kepada peserta pameran pada Jumat, 2 November 2018 di Hall Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat.

Presentasi tersebut diterangkan langsung oleh Anggota 3/Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Usaha, Dwianto Eko Winaryo dan memfokuskan pada proyek jangka menengah dan panjang BP Batam, terutama yang berkaitan dengan pelabuhan. Sebanyak 30 peserta menghadiri dan mendengar paparan tersebut, dan sebagian besar dari peserta merupakan pelaku usaha sektor maritim, baik eksportir dan importir barang maupun bongkar muat logistik.

“Saat ini kita berusaha membuat pondasi kebijakan dan arahan pengembangan untuk menuju Batam Kota Logistik. Dimana bisa dilihat Batam sebagai Kawasan Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas ini diharapkan bisa berkembang dan mampu mengemban peran sebagai barang masuk dan barang keluar yang diperlukan bagi kegiatan industri, perdagangan, dan pariwisata.” Jelas Dwianto.

Ia menambahkan, bahwa kegiatan tersebut dapat dioptimalkan dengan memanfaatkan dua aset utama milik BP Batam, yakni Bandara Internasional Hang Nadim yang dikembangkan sebagai Logistic Aerocity, dan Pelabuhan Laut Internasional Batu Ampar dan Pelabuhan Tanjung Sauh. Proyek Tanjung Sauh sendiri direncanakan akan dimanfaatkan setelah Pelabuhan Batu Ampar mencapai kapasitas maksimumnya.

Selain itu, Dwianto mengatakan bahwa BP Batam juga telah menggandeng lembaga pemerintahan vertikal untuk memaksimalkan pemanfaatkan jalur Selat Malaka.

“Secara prinsip, Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan izin kepada BP Batam untuk mengoperasikan Floating Storage Unit yang kegiatannya berupa Ship-to-Ship yang selama ini belum pernah dimanfaatkan. Dengan diterapkan Floating Storage Unit dan posisi Batam yang berstatus FTZ, memungkinkan alih muatan kapal tidak harus bersandar di pelabuhan. Sehingga proses alih muatan dapat dilaksanakan di lepas pantai yang masih masuk ke dalam wilayah perairan Indonesia.”

Dalam presentasinya, Dwianto memaparkan mengenai kapasitas kontainer Pelabuhan Batu Ampar yang mencapai 400.000 TEUs dan non kontainer 2 juta ton dengan kemampuan Handling 6 kontainer/jam sehingga masih sangat memungkinkan untuk ditingkatkan produktivitasnya dan modernisasi, baik Terminal Handling Facility maupun Port Management System yang digunakan saat ini .

Pengembangan Pelabuhan Batu Ampar sendiri direncanakan akan dibagi menjadi 2 tahap pembangunan infrastruktur, sehingga kapasitas meningkat  menjadi 3.1 Juta TEUs, dengan target konstruksi pada tahun 2019 dan target operasi pada tahun 2021.

“Untuk status terkini terkait pengembangan Pelabuhan Batu Ampar adalah, BP Batam telah merencanakan proses pengembangan Pelabuhan Batu Ampar dan sudah menawarkan proyek kepada potensial investor. Kemudian BP Batam juga menawarkan proses Joint Operation Scheme dengan pemberian konsesi setelah proses investasi. Hal ini kami usulkan melalui kerjasama konsorsium dengan PT. Pelindo I selaku partner dari BP Batam.” Terang Dwianto.

Ia berharap, dengan beberapa stakeholder yang dapat mengakses Neo Pelabuhan Batu Ampar ini nantinya mampu membentuk ekosistem yang baik sehingga operasional yang efisien dapat terwujud.

Indonesia Infrastrucure Week (IIW) merupakan pameran akbar yang diselenggarakan oleh  Tarsus Indonesia dan mengakomodir 150 exhibitor. Pameran ini dilaksanakan mulai tanggal 31 Oktober sampai 2 November 2018. Kegiatan ini juga diklaim sebagai ajang pameran infrastruktur yang terbesar dan terlengkap di Indonesia.

IIW 2018 kali ini mengadopsi konsep Show-Within-A-Show dengan membawa 7 pameran dagang vertikal dalam ruang lingkup sektor infrastruktur, yaitu Pengembangan Energi (Infra Energy), Perkretaapian (Infra Rail), Kepelabuhan (Infra Port), Pembangunan Wilayah Industri dan Ekonomi Khusus (SEIZ), Pengelolaan Air Bersih dan Air Limbah (Infra Water), Pengamanan dan Pengawasan Infrastruktur Indonesia (Infra Security) dan Manajemen Lalu Lintas (Infra Traffic).

Indonesia Infrastructure Week 2018 merupakan media yang tepat untuk membangun koneksi, peluang bisnis baru, serta mendapatkan pengetahuan baru akan dunia infrastruktur indonesia karena kemajemukan peserta pameran yang terdiri dari masyarakat dan pelaku industri infrastruktur, maupun profesional dari banyak negara dalam satu tempat. (Humas BP Batam)



BATAM, Realitasnews.com - Memasuki hari terakhir kegiatan Pameran dan Seminar Indonesia Infrastructure Week (IIW), Badan Pengusahaan (BP) Batam berkesempatan untuk memberikan presentasi kepada peserta pameran pada Jumat, 2 November 2018 di Hall Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat.

Presentasi tersebut diterangkan langsung oleh Anggota 3/Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Usaha, Dwianto Eko Winaryo dan memfokuskan pada proyek jangka menengah dan panjang BP Batam, terutama yang berkaitan dengan pelabuhan. Sebanyak 30 peserta menghadiri dan mendengar paparan tersebut, dan sebagian besar dari peserta merupakan pelaku usaha sektor maritim, baik eksportir dan importir barang maupun bongkar muat logistik.

“Saat ini kita berusaha membuat pondasi kebijakan dan arahan pengembangan untuk menuju Batam Kota Logistik. Dimana bisa dilihat Batam sebagai Kawasan Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas ini diharapkan bisa berkembang dan mampu mengemban peran sebagai barang masuk dan barang keluar yang diperlukan bagi kegiatan industri, perdagangan, dan pariwisata.” Jelas Dwianto.

Ia menambahkan, bahwa kegiatan tersebut dapat dioptimalkan dengan memanfaatkan dua aset utama milik BP Batam, yakni Bandara Internasional Hang Nadim yang dikembangkan sebagai Logistic Aerocity, dan Pelabuhan Laut Internasional Batu Ampar dan Pelabuhan Tanjung Sauh. Proyek Tanjung Sauh sendiri direncanakan akan dimanfaatkan setelah Pelabuhan Batu Ampar mencapai kapasitas maksimumnya.

Selain itu, Dwianto mengatakan bahwa BP Batam juga telah menggandeng lembaga pemerintahan vertikal untuk memaksimalkan pemanfaatkan jalur Selat Malaka.

“Secara prinsip, Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan izin kepada BP Batam untuk mengoperasikan Floating Storage Unit yang kegiatannya berupa Ship-to-Ship yang selama ini belum pernah dimanfaatkan. Dengan diterapkan Floating Storage Unit dan posisi Batam yang berstatus FTZ, memungkinkan alih muatan kapal tidak harus bersandar di pelabuhan. Sehingga proses alih muatan dapat dilaksanakan di lepas pantai yang masih masuk ke dalam wilayah perairan Indonesia.”

Dalam presentasinya, Dwianto memaparkan mengenai kapasitas kontainer Pelabuhan Batu Ampar yang mencapai 400.000 TEUs dan non kontainer 2 juta ton dengan kemampuan Handling 6 kontainer/jam sehingga masih sangat memungkinkan untuk ditingkatkan produktivitasnya dan modernisasi, baik Terminal Handling Facility maupun Port Management System yang digunakan saat ini .

Pengembangan Pelabuhan Batu Ampar sendiri direncanakan akan dibagi menjadi 2 tahap pembangunan infrastruktur, sehingga kapasitas meningkat  menjadi 3.1 Juta TEUs, dengan target konstruksi pada tahun 2019 dan target operasi pada tahun 2021.

“Untuk status terkini terkait pengembangan Pelabuhan Batu Ampar adalah, BP Batam telah merencanakan proses pengembangan Pelabuhan Batu Ampar dan sudah menawarkan proyek kepada potensial investor. Kemudian BP Batam juga menawarkan proses Joint Operation Scheme dengan pemberian konsesi setelah proses investasi. Hal ini kami usulkan melalui kerjasama konsorsium dengan PT. Pelindo I selaku partner dari BP Batam.” Terang Dwianto.

Ia berharap, dengan beberapa stakeholder yang dapat mengakses Neo Pelabuhan Batu Ampar ini nantinya mampu membentuk ekosistem yang baik sehingga operasional yang efisien dapat terwujud.

Indonesia Infrastrucure Week (IIW) merupakan pameran akbar yang diselenggarakan oleh  Tarsus Indonesia dan mengakomodir 150 exhibitor. Pameran ini dilaksanakan mulai tanggal 31 Oktober sampai 2 November 2018. Kegiatan ini juga diklaim sebagai ajang pameran infrastruktur yang terbesar dan terlengkap di Indonesia.

IIW 2018 kali ini mengadopsi konsep Show-Within-A-Show dengan membawa 7 pameran dagang vertikal dalam ruang lingkup sektor infrastruktur, yaitu Pengembangan Energi (Infra Energy), Perkretaapian (Infra Rail), Kepelabuhan (Infra Port), Pembangunan Wilayah Industri dan Ekonomi Khusus (SEIZ), Pengelolaan Air Bersih dan Air Limbah (Infra Water), Pengamanan dan Pengawasan Infrastruktur Indonesia (Infra Security) dan Manajemen Lalu Lintas (Infra Traffic).

Indonesia Infrastructure Week 2018 merupakan media yang tepat untuk membangun koneksi, peluang bisnis baru, serta mendapatkan pengetahuan baru akan dunia infrastruktur indonesia karena kemajemukan peserta pameran yang terdiri dari masyarakat dan pelaku industri infrastruktur, maupun profesional dari banyak negara dalam satu tempat. (Humas BP Batam)

Post a Comment

Disqus